ada sesuatu di dalam dada ini yang ingin keluar. mendobrak dan meronta. ada kata yang ingin melompat. namun logika menolak. entah mengapa sepasang kaki ini terus berlari. menuruni tiap-tiap anak tangga yang ada. dan nafas ini memburu ketika ku cegat dirinya di pintu itu. wajahnya lelah. kemejanya sudah berantakan dan dasinya sudah tak ada di tempatnya. ya, aku mencegatnya sepulang kerja. peluh turun dari keningku tiada ampun, berbulir besar pula. aku berkata gagap,

“a-ada sesuatu… yang ingin aku bicarakan.” kataku menatap matanya yang berwarna coklat muda, dan lebih muda lagi karena sinar matahari yang benderang.

“ya. aku ada waktu.” ucapannya tulus tanpa ada rasa terganggu.

“mmm… tidak disini.” kataku sambil melirik seorang pria sedang mengepel lantai koridor yang nampak lengang.

“dia takkan mendengar.” katanya sambil tersenyum.

“jelas dia akan mendengar… let’s walk to your car.” kataku sambil mendorong tubuhnya agar menurut.

“sepertinya aku tahu apa yang akan kau katakan.” sungguh dia membuatku bertambah gugup.

mobilnya tinggal beberapa langkah lagi. namun aku belum mengatakan apapun. dia tak menampakan wajah penasarannya. mungkin dia sudah tau apa yang akan aku katakan, seperti yang dia ucapkan tadi.

“mm… semua omongan orang yang kamu dengar, mungkin… itu semuanya benar.” kataku sambil membetulkan kerah kemejaku yang sudah lusuh.

keningnya berkerut. “memangnya mereka berkata untuk aku?”

dan aku pun memutar bola mataku. “kita. bukan hanya kamu. dan… mm, maaf untuk ketidaknyamanan itu. aku benar-benar minta maaf.” kataku sambil tertunduk. dia duduk di belakang kemudinya dengan pintu mobil terbuka.

“ya, semua yang mereka katakan itu benar. itu yang aku rasakan. maaf, mungkin aku lancang. aku tidak pantas.” kataku sambil menutup pintu mobilnya. “maaf, aku sulit mengatakannya. pulanglah…” mataku menitikan air mata. tanpa bisa aku kendalikan.

“tulis saja.” katanya perlahan. aku bingung, tak mengerti maksudnya. “terkadang ada hal yang sulit di ucapakan dengan kata-kata. mungkin sebuah tulisan bisa membantumu mengungkapkannya. aku menunggunya, ok?” mesin mobilnya menyala. dia tersenyum memandangku begitu dalam dan menyalamiku. mobilnya melaju demikian pula air mataku.

hari-hariku kemudian dipenuhi dilema. haruskah aku? atau tidak? hatiku berkata, ya. namun logikaku berkata lainnya. tapi ada satu bahasa hati yang terlupa yang bernama firasat. firasatku berkata tuk melakukannya. terjalanjur, aku sudah terlanjut memulainya. kemudia kuputuskan untuk menulis e-mail untuknya. singkat dan jelas.

mungkin kau sudah mengetahuinya. tapi kau cinta pertamaku. jika kau ingin menjauh dariku. aku terima, toh, itu konsekuensiku. maaf karena mungkin ini salah. dan terima kasih untuk semuanya.

tanpa pikir panjang aku kirim untuknya. dan semalaman aku di buat merana olehnya. tidak ada pertanyaan didalam tulisanku itu. hanya pernyataan yang aku simpan sekian lama, dan tidak adilnya untuknya kalau ia tak mengetahuinya. dan tidak adil juga untukku kalau aku selalu membohongi diri sendiri. keputusan sudah bulat dan sudah terlanjur dilakukan. aku hanya bisa menunggu apa tanggapanya. kalau ia menanggapi baik, aku sangat berterima kasih. dan kalau tidak, biar aku yang menyembuhkan luka ini sendiri.

malam itu hujan turun, tidak banyak. hanya rintik-rintik dan kilat yang saling mengedip. tiba-tiba laptopku berbunyi pertanda ada e-mail masuk kedalam inboxku. hatiku berdebar. mungkin kah itu dia yang membalas? sekejap aku tak bergerak. rasanya cell-cell tubuhku berhenti membelah. ku melangkah perlahan dan benar saja, itu dari dia.

kita ada chemistry. sejak pertama aku melihatmu, aku tahu itu. namun chemistry yang keluar dari otak kita berbeda. aku mengenalmu jauh lebih dalam dari teman-temanmu mengenalmu. mungkin benar ledekanmu itu, aku cenayang. ah, rasanya terlalu kasar. mari sebut saja aku diberi kelebihan, yaitu aku bisa membaca pikiran orang. aku bersumpah padamu, jangan kau menjauh dariku. dan aku pun tak akan. sekali kau sebut-sebut masalah itu, aku akan pergi. aku masih membutuhkanmu. jadi… jangan pergi. percaya padaku, kau memberikan kenangan yang tak terlupa dalam hidupku. namun, kita tak bisa lebih dari ini. maaf.

aku menangis. ya, kita hanya akan seperti ini. hanya saling percaya. percaya bahwa pertemuan ini tidak akan sia-sia. ada maksud yang dibuat oleh sang pencipta. percaya bahwa, kita hanya akan saling ada untuk saling membantu. tidak lebih dari itu. teman baik, mungkin bisa disebut. namun aku puas. puas dengan kebenaran ini. puas dengan keterbukaan ini. puas dengan dia sebagaimana dia ada. puas dengan aku yang jujur. dan puas dengan dia yang ternyata tidak ingin aku pergi. dan dia takkan pergi juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s