Sudden Diaryish (??)

malam ini entah mau ngapain. nggak ada ide buat nulis. gak ada buku yang di baca, karena tadi siang baru aja selesai baca Perahu Kertas-nya Dee. dan akhirnya kenal sama band Indigo Girls karena membaca epilognya di halaman belakang. dan jadilah saya jatuh cinta dengan band itu. i love with the sounds of the guitar in their songs and i love with their poetic lyrics.

dan sekarang sudah berjam-jam hanya membaca blog Dewi Lestari yang dia tulis bertahun-tahun lalu ditemani satu kotak roti bakar coklat keju. basi memang, tapi saya penasaran dengan metode 55 days writing yang dia jalani waktu itu, saya penasaran dengan prosesnya dan hasil akhirnya. tapi gak sia-sia kok baca blog itu, saya jadi tahu beberapa poin penting untuk menulis.

i don’t know since when this blog transform into diaryish. ok never mind. kurang lebih satu jam lagi, kita masuk bulan september. entah mengapa saya gak siap meninggalkan bulan agustus. mungkin saya ternyata gak siap dengan kuliah tanggal 20 nanti. liburan yang saya kutuki dulu sekarang adalah hal yang paling saya takut akhiri beberapa minggu lagi. atau mungkin saya tidak siap dengan kepergian kakak saya? yang entah akan kemana, dia belum memberitahu saya. dia tak lagi mengajar di sekolah SMA saya per bulan oktober nanti. dan saya sepertinya belum siap, karena kalau tidak disana, dimana lagi saya akan bertemu dia? dengan alasan apa lagi saya akan bertemu dia? apa mungkin saya belum siap? tapi, siap tidak siap. waktu terus berjalan tanpa tedeng aling-aling.

ngomong-ngomong tentang kakak saya. dia sebenarnya bukan kakak kandung saya. kami tidak sedarah. tapi bagi saya, dia kakak yang di berikan Tuhan saat saya berumur 18 tahun ini. tentu saya melewati beberapa proses hidup dengannya. sebelumnya, bisa dikatakan saya tergila-gila dengan dia. mungkin kalian bisa menyebutnya, jatuh cinta. setelah proses hidup, kejadian-kejadian yang memakan waktu dua tahun semasa duduk di bangku SMA. akhirnya saya sadar kami tidak sejalan dalam cinta. tidak. kami tidak menjauh. justru semakin dekat. dan akhirnya, inilah kami. saudara tak sedarah tapi rasanya dia lebih dekat dari saudara saya sendiri. menurut saya Tuhan sungguh baik. dan saya adalah penganut paham “setiap pertemuan pasti ada maksud tersendiri”. dan entah sampai kapan, saya akan terus menunggu maksud dari pertemua saya dengan kakak tak sedarah saya ini. pokoknya, apa pun yang terbaik buat dia. saya relakan.

ok, tulisan malam ini mulai ngalor ngidul. mungkin ini pengaruh dari novel Perahu Kertas atau blognya Dewi Lestar. tapi, rasanya lega bisa cerita gak jelas kayak gini. saya gak bisa liat kalian, tapi semoga ini bisa menghibur, bisa membantu killing your time, atau apapun itulah.

wake me up when September ends.

peace, love, respect, and gaul.

PS : lirik yang gak senggaja saya tulis beberapa hari lalu baru saya serahkan ke Aldy Saputra (kakak kelas saya) yang jago aransemen musik. dan senangnya dia bisa langsung ngerjain lirik saya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s