Peluk Perpisahan

aku tidak keberetan saat kau umumkan tanggalnya. aku juga tidak keberatan menemanimu menempelkan undangan itu. aku setia mendengarkan celoteh riangmu tentang dia. tentang perempuan beruntung itu yang katamu gugup setengah mati. aku tidak sedih saat harus kau tinggalkan ku ke pulau seberang. menjalani hari bersejarah dalam hidupmu.

tak lama kau menghubungiku. mengabarkan semua baik-baik saja. dan memastikan aku baik-baik saja, mungkin. meski aku rindu tatapan matamu, meski aku sangat ingin menggenggam tanganmu yang aku hafal betul temperaturnya, aku harus menahan diri. setidaknya sampai kau pulang.

malam ini tak begitu banyak bintang, namun kemudian ada satu sinar menari-nari tak jauh dari hadapanku. baru kemudian aku sadar, matamu yang berbinar sudah kembali kekehidupanku. kau pulang. namun hatiku kemudian pilu, serasa dikebiri. cincin itu. melingkar utuh di jemari manismu. tidak, aku tidak bisa menangis di hadapanmu. karena inilah yang kita sepakati, aku sepakati.

tapi kemudian aku sadar, ternyata ini semua nyata. kepedihan ini nyata. semua senyum haru yang muncul saat kau umumkan tanggal itu, samua tawa riang saat melihat undangan indah itu, semua rasa penasaran saat kau ceritakan kekugugupan perempuan itu semuanya palsu. aku terperangkap oleh kepalsuan abadi. aku terjerat oleh keteguhan hati yang pura-pura.

sesungguhnya, aku ini sedih. merana. perih dan sakit. aku ingin mendobrak ruang waktu. memporakporandakan detik yang membawamu ke pulau seberang. tempat semua di helat. aku ingin membakar habis pulau itu. saksi bisu harimu itu.

seketika aku tersadarkan oleh hentakan jemarimu di pipiku, lembut. dan harum tubuhmu tercium betul. masih seperti dulu. ‘hanya bisa sampai disini. gak bisa kemana-mana lagi.’ tidak ada sinar ragu disana, tidak ada penyesalan. hanya ada satu keyakinan dimatamu. keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. dengan atau tanpamu disisiku. tak bisa ditahan, aku memelukmu erat. kau bisa artikan itu sebagi pelukan selamat atas pernikahanmu, atau sebagai pelukan sayang, atau sebagai pelukan meyakinkan. namun yang pasti, ini adalah sebuah pelukan perpisahan untukku. karena, besok, saat matahari terbit kembali. aku akan menjadi aku yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s