Pacar Pertama Untuk Icha (sebuah cerita bersambung)

hal yang baru selalu asik. jadi, gue memutuskan untuk memulai cerita bersambung di blog gue ini. karena ini adalah hal yang baru bagi gue, dan tantangannya adalah menjaring pembaca yang banyak.

jadi, enjoy the story people! komen di persilahkan. termasuk masukan dan kritik. thank you for visiting and reading😀 God bless you all…
———————————————————————————————————————–

workaholic girl

Icha baru saja sampai kantor dan langsung menenggelamkan diri dikubikelnya. Sebenarnya dia malas sekali hari ini buat masuk kantor, tapi apa daya dia harus menyusun acara hari ini dan harus diserahkan besok pagi ke kliennya. Sambil malas-malasan dia mencoret-coret lembar kosong dihadapannya. Niatnya sih mau bikin rundown, tapi malah jadinya gambar-gambar gak jelas. Begini deh kalo suasana hati lagi gak beres, semua jadi terbengkalai. Apa lagi didukung cuaca yang mendung mendayu-dayu begini.

“Cha, bengong aje lo. Eh, tuh lo dipanggil sama Kak Redo. Buruan.” Mima rekan kerjanya tiba-tiba nongol dari balik kubikel Icha dan langsung nyerocos.

“Iya, iya.” Setelah itu Icha langsung menyeret kakinya dengan malas-malasan ke ruangan Kak Redo.

Kak Redo itu adalah ketua bagian kreatif di Happy Sunday Event Organizer ini. EO ini adalah perancang acara yang sudah lumayan terkenal di Jakarta, melayani berbagai jenis pesta, dari pesta ulang tahun sampe pernikahan. Makanya, Icha yang berada dibagian kreatif otomatis jadi orang yang paling sibuk. Karena istilahnya, semua acara dia yang rancang dan bertemu langsung denga klien, setelah itu apa kebutuhan pestanya langsung diturunkan kebagian-bagian lainnya. Tapi Icha memang senang dengan pekerjannya ini, dari dulu dia senang merancang sebuah acara.

Setelah mengetuk pintu ruang Kak Redo, Icha langsung masuk dan duduk di depan meja kerja Kak Redo yang pagi itu terlihat sangat berantakan dari biasanya.

“Cha, gue mau run down sweet seventeen-nya Jessica lo selesaiin siang ini juga, abis itu sorenya lo ikut gue ketemu klien yang mau bikin launching produk perusahaannya ya.” Kata Kak Redo lalu menyerahkan detail produk dan data perusahaan dan perkiraan acaranya yang baru saja keluar dari mesin printer.

“loh? Bukannya yang ini gilirannya si Noel ya? Kenapa gue lagi, Kak?” meski protes, namun Icha tetep meneria dokumen yang diserahkan Kak Redo.

“Iya, gue tahu. Tapi si Noel itu kan mau nikah, dia udah bilang bakal izin-izin beberapa minggu ini buat ngurusin pernikahannya itu. Karena ini perusahaan besar dan projeknya penting, jadi gue gak mau keteteran dan mending gue kasih ke elo yang free terus.” Kak Redo lantas langsung sibuk lagi dengan laptopnya dan mesin printernya itu.

“oh gitu… ya, yauda deh.” Dasar Kak Redo, dia gak nanya dulu Icha siap apa nggak nanganin projek ini. Tapi dia asal maen kasih-kasih aja. Tapi, Icha gak nolak juga. Soalnya sebentar lagi projeknya Jessica bakal kelar dan bawahannya yang lagi training yang bakal nerusin dan Icha Cuma tinggal kontrol-kontrol aja.

Setelah itu, Icha kembali ke meja kerjannya dan langsung sibuk ngebut ngerjain rundown ulang tahun Jessica. Dan sekarang, gak ada waktu lagi buat galau-galauan dan memikirkan rasa kesepian yang ada di hatinya.

Semalaman dia menangis dan berdoa sendirian di kamarnya. Karena tidak tahu lagi harus bagaimana dan harus cerita kesiapa. Akhirnya semalam Icha memutuskan untuk dikamar saja dan berdoa. Setelah Vino, gebetan Icha sekaligus cinta pertamanya, menikah dan pindah ke Bandung, Icha jadi bingung apa yang harus dilakukannya.

Memang dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menyudahi perasannya dan move on setelah Vino benar-benar menikah. Dan ini sudah berjalan sekitar Sembilan bulan. Tapi, setelah itu, Icha jadi gak ada semangat. Hari-harinya dia lewati begitu saja tanpa ada tujuan. Memang banyak teman disekitarnya, namun kesepian dihatinya yang menunutut dia memberikan esensi indah dan romantis, yang orang-orang sebut cinta, tidak bisa dibendung.

Vino hanya cinta pertamanya yang tidak pernah bisa ia miliki, karena saat mengenalnya dua tahun lalu ternyata Vino sudah mempunyai pacar, tapi Icha mengetahuinya setelah ia menetapkan perasaannya pada Vino dan kini Vino telah menikah Sembilan bulan yang lalu. Sekarang, Icha sedang mencoba dengan keras untuk melanjutkan hidupnya. Berusaha mencari pengganti Vino yang bisa mengisi kekosongan hatinya. Tapi sampai sekarang, ia masih saja kebingungan kenapa tidak ada orang yang pas dihatinya. Meski teman pria dikantornya banyak yang ganteng dan baik-baik, namun ia cukup puas menjadi teman dekat mereka saja. Belum ada seorangpun yang bisa menyentuh hatinya

Tepat pukul tiga sore, Kak Redo mengetuk kubikel Icha sampai ia tersentak. “ih! Bikin kaget aja sih, kak. Udah mau berangkat?” kata Icha sambil merapihkan mejanya dan mengambil rundown yang sudah selesai di print.

“Iyah, yuk buruan, jangan telat datengnya. Gue tunggu di bawah ya.” Kak Redo langsung jalan dan turun ke lantai satu.

“Mima, tolong kasih si Hansen nanti, ya. Thanks loh!” katanya pada Mima di meja sebalahnya dan langsung menyusul Kak Redo kebawah. Tapi sebelumnya ia tidak lupa merapihkan bedak, lipstick, dan eyelinernya. Dan kini ia siap bertemu klien penting Kak Redo.

**

Café ini tidak begitu ramai, dan cocok untuk ngeteh sore-sore sambil ketemu klien seperti saat ini. Tapi, sudah lima belas menit berlalu dari jam 4, klien yang ditunggu belum juga nonggol.

“nah itu dia.” Kak Redo tersenyum dan berdiri bersiap menyambut kliennya. Icha pun ikut berdiri juga. Namun, Icha tidak bisa menyembunyikan muka kagumnya setelah melihat sosok klien mereka seperti apa. Hati Icha seperti disentak dan berdesir. Ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan. Hentakan itu ada lagi. Hentakan saat seperti ia pertama kali melihat Vino di koridor kampusnya dua tahun lalu. Sudah lama ia tidak merasakan desiran ini lagi.

“Sore. Wah, sori nih telat. Hehehe” katanya lalu duduk di depan Icha dan meletakkan tanggannya diatas meja siap untuk rapat. Namun Icha tidak bisa melepaskan pandangan kagumnya sampai kaki Icha diinjak dari bawah meja oleh Kak Redo. Dasar Icha gak bisa ngeliat yang bening dikit, kata Kak Redo dalam hati.

“ohya, Kev. Kenalin ini Icha, tim acara yang bakal ngurusin semua detail launching nanti.” Kemudian Kak Redo melirik Icha yang langsung menjulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Kevin. Jadi, kamu yang bakal ngurus semua acaranya ya?” Tanya Kevin sambil tersenyum ramah dengan mata yang berbinar.

“Iya, pak.” Dan Icha menjawab dengan sopan. Masih dengan tatapan kagumnya.

“Eh, gak usah manggil Bapak. Panggil Kevin aja. Umur kita pasti gak jauh beda.” Kevin tersenyum dengan manisnya lagi. Seenggaknya dimata Icha senyum Kevin itu manis.

**

Setelah sore itu berlalu. Icha pulang ke apartemennya dengan senyum mengembang lebar dibibirnya. Wajahnya berseri dan matanya berbinar-binar. Bello tetangga Icha yang berpapasan di lift heran melihatnya.

“Cha, lo gak apa-apa kan?” Bello memandang khawatir sambil memegang pundak Icha.

“Emang muka gue keliatan gue lagi ada apa-apa?” jawab Icha masih dengan senyum-senyum gak jelasnya itu.

“Banget.” Bello berkata dengan muka datar dan kemudian keluar dari lift mendului Icha.

“Woi, balikin printer gue! Gue mau kerja nih!” teriak Icha sebelum masuk kedalam apartemennya.

“Ha? Tumben lo kerja dirumah!” Bello membalasnya sebelum menutup pintu apartemennya.

**

Niatnya Icha memang ingin merancang acara buat launching produk Kevin malam ini. Tapi, pikiran tentang Kevin lebih menggoda dari pada tentang produknya. Icha masih mengingat bagaimana senyumnya yang selalu dibarengi dengan mata berbinarnya. Jabatan tanganya yang kencang namun hangat itu. Cara bicaranya yang santai dan kepribadiannya yang ramah. Tubuhnya yang gagah dan proporsional. Wangi badannya yang maskulin menggoda. dan… astaga…Icha baru ingat bahwa mereka bertukar pin Blackberry dan nomor HP kemarin. Oh… indahnya hidup sendirian seperti ini.

Icha memang cewek yang aneh. Kemarin menangisi Vino yang sudah pergi. Sekarang, ia senyum-senyum kayak orang gila padahal baru ketemu sekali dengan Kevin dan cuman untuk urusan kerja.

Tapi, ia mengingat tekatnya untuk move on dan membuka hati untuk orang lain lagi. Ia mempunyai kesempatanya sekarang dan ia ingin memberikan waktunya, hatinya, dan pikirannya untuk cinta kembali. Memberikan sedikit tempat untuk hal itu merasuki jiwanya lagi dan merasakan indahnya dibelenggu cinta.

“Oh my God! Dia udah nikah belum ya? Mm… tapi gue gak liat ada cincin di jari manisnya kemarin.” Icha tiba-tiba tersadar akan hal itu sampai-sampai ia ngomong sendirian. Dia tidak ingin mengulangi kesalahannya yang dulu. Menyukai orang yang sudah mempunyai pasangan.

“Ah, kita liat aja dulu. Sampai bulan depan gue masih ada beberapa kali pertemuan dengan dia. Gue bisa memanfaatkan itu untuk cari tahu.”

BERSAMBUNG…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s