Pembicaraan Makan Siang

siang itu kami makan siang bersama. aku dan sahabatku. kami sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. dan tiba-tiba pembicaraan kami menuju ke topik itu. topik yang selalu ada dalam pembicaraan dua sahabat perempuan. ya, apa lagi kalau bukan soal cowok.
“jadi masih sama dia?” katanya.
“gak ngerti. maksudnya apa?” kataku bingung beneran.
“ah, pura-pura gak tau. itu loh, cowok lo.” dia memperjelas.
“cowok gue? gue gak ada cowok. belom.”
“jadi dia bukan cowok lo? terus apa?” mukanya datar saat bertanya.
“temen. temen baik.”
“temen tapi mesra ya?” kata dia lagi sambil bergurau. tapi ada benarnya juga. kami mesra, ya, terkadang sih. tapi tetap aja mesra kan? tapi kami teman. bingung? sama, aku juga bingung.
“ah, bisa aja lo. gak mesra-mesra amatlah.” jawabku cepat.
“tetep aja judulnya mesra. hahaha.”
lantas aku terdiam.
“lo suka dia?” tiba-tiba dia kembali bertanya.
“sukalah.”
“sayang?”
“banget.”
“terus?” sahabatku mengerutkan alisnya. bingung.
“suka, ya, suka. sayang, ya, sayang. tapi dalam konteks dan kapasitas yang berbeda. ngerti kan?”
“nggak.” dia cepat menggelengkan kepala.
“terkadang kita gak harus punya nama atau label untuk hubungan kita dengan seseorang yang dekat sama kita. terkadang, dekat ya hanya dekat. tanpa embel-embel.” jawabku sambil mengaduk-aduk es teh tarikku yang tinggal setengah gelas.
“dia gak keberatan?”
“menurut gue sih, nggak. kita sama-sama terbuka. gue selalu jujur sama dia, dia juga jujur sama gue. kita tahu isi hati masing-masing. jadi kita baik-baik aja dengan hubungan seperti ini yang hampir setahun.”
“kalian aneh.”
“iyah. emang.”
“dia pernah dekat dengan cewek?” tanya sahabatku lagi penasaran.
“nggak. dia gak pernah deketin atau pdkt sama cewek. gak tahu juga ya, selama ini sih sepenglihatan gue gak ada, tapi gak tahu deh kalo dia tutup-tutupin ke gue.”
“elo sendiri? pernah suka sama cowok lain selama ini?” kini dia mulai seperti wartawan infotainment.
“hmmm… nggak.”
dan dari situ kami terdiam cukup lama. tenggelam dalam pikiran masing-masing. mungkin dia masih ada yang mau ditanyakan. tapi nampaknya, semua pertanyaan dia akan berujung bahwa aku dan teman baikku itu, yang katanya teman tapi mesra itu, tidak ada apa-apa. aku tidak tahu apa ini salah atau tidak. yang pasti, aku senang menjalaninya, dan dia tidak keberatan akan keberadaan hubungan ini. kapan ini akan berakhir pun aku tidak tahu. yang pasti aku merindukannya setiap hari seperti aku pertama kali mengenalnya. aku membutuhkannya, seperti aku membutuhkan buku harianku untuk menumpahkan isi hati dan perasaanku. dia yang tahu air mataku, renggut kesalku, atau tawa bahagiaku. dia lebih dari sekedar buku harian. tapi untuk rasa yang lebih, tidak ada. aku sudah pikirkan itu berkali-kali. mungkin belum ada tepatnya. apa lagi kata orang, cinta bisa tumbuh dari kebiasaan. bahaya kalo itu sampai terjadi. aku tidak berani membayangkan hubungan ini lebih dari sekedar teman baik yang setiap hari bertukar cerita dan pengalaman, tapi tak jarang juga kita bertengkar dan saling marah kemudian merayu manis. aku tidak berani melambungkan harapan. karena harapan yang lebih akan membawa pada kehancuran pertemanan kita. biarlah waktu yang menjawab, dan Tuhan yang menentukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s