Pembicaraan Makan Siang #2

siang itu kami duduk bersama lagi. aku dan sahabatku. mencari waktu kembali ditengah-tengah kesibukan kami yang semakin menjadi. sudah beberapa lama sejak pembicaraan makan siang terakhir kali. yang namanya sahabat, pasti ingin selalu update berita tentang satu sama lain. seperti saat ini. di tempat nongkrong favorit kami.

“jadi, apa kabar lo sama… dia?” tanya sahabatku ragu-ragu.

“dia siapa?” kataku pura-pura gak tau dengan arah pembicaraan ini.

“ah, basi lo. sama si itulah, TTM-an lo.”

“hahaha. sialana lo. gak TTM-an kali. temen deket.” aku agak tersipu dibilang TTM-an.

“yaaah, apalah itu namanya. gimana?” tanya dia lagi tak puas dengan jawabanku.

“baik kok.” aku tersenyum.

“senyum lo gak menunjukan kalian baik-baik aja.” emang bener ya, yang namanya sahabat paling tahu kalo ada yang beda sama kita. mereka pasti tahu kalo terjadi sesuatu. “ada masalah?”

“gak tau ini namanya masalah apa bukan.” ok, harus aku akui kita punya sesuatu yang terjadi.

aku juga gak tau apa yang sebenarnya terjadi diantara kami. tapi dia berubah. dia kayak bukan dia yang dulu. kami sudah jarang berkomunikasi, pembicaraan kami dangkal. meski aku sudah berusaha berulang-ulang kali memperbaikinya dan berusaha sebiasa mungkin kayak dulu kita komunikasi, tapi dia seperti membentuk tembok yang besar. dia menutup diri, dia seperti jauh. tapi dia selalu menutupi perubahannya itu dengan alasan “Aku sibuk kerja.” tapi aku gak percaya dengan alasannya itu. berkali-kali aku tanya kenapa dia nampaknya berubah, dia selalu jawab hal yang sama dengan embel-embel “Aku gak berubah kok.” dan itu yang membuat aku semakin gak percaya. apa yang terjadi? apa aku ada salah? semua pertanyaaan itu hanya menggantung diujung lidahku saja. gak pernah terjawab dengan benar.

“mungkin gak dia suka sama lo?” tanya sahabatku itu. aku heran, mengerutkan kening. mana mungkin itu terjadi.

“yang bener aja lo! mana mungkinlah! gue udah anggep dia kayak kakak sendiri. temen deket. ya kayak elo, kayak anak-anak lainnya juga.” sanggahku. aku tak cukup berani mengamini dugaaan sahabatku yang satu ini. sahabat-sahabatku tidak pernah memanjakan aku dengan roman-roman picisan yang hanya ada di novel-novel romantis, mereka selalu realistis. mereka gak mau membohongiku seperti itu. jadi, kalo sahabatku ini bicara seperti itu, aku takut. takut dia benar, takut aku jadi berharap, takut aku jadi berpikir terlalu banyak nanti.

“loh? kok gak mungkin sih? dia laki-laki kan, elo perempuan? dan kalian sama-sama single! kenapa gak mungkin sih?’ nadanya mulai tinggi satu oktaf tanda perdebatan akan dimulai.

“ya gak mungkin aja menurut gue.” aku masih menyanggah. melindungi hatiku sendiri

“kalo gue bilang dia itu suka sama lo, tapi karena elo udah membatasi diri dari awal. jadi mungkin sekarang dia yang membatasi diri supaya dia gak membuat dirinya melewati batas yang lo buat.”

aku berpikir. diam. apa mungkin hal macam begitu terjadi?

“gue yakin dia pasti lagi banyak berpikir juga. makanya dia berubah. mungkin juga dia lagi pasrah dan rendah diri. lagi mikir gimana nanti kedepannya.” lanjut sahabatku.

“gak mungkin. kalo dia suka, ya dia bilang dong.”

“dia takut elo tolak! ngerti gak sih? kan elo udah membatasi diri sama dia, dia pikir dia cuma sebatas teman dekat buat elo. dan gue yakin dia gak cuma sebatas temen deket atau kakak aja buat lo juga. ngaku lo sama gue!?” sahabatku mulai emosi.

“gak tau deh gue…”

“tuh kan! udah deh. mending lo jujur sama diri lo sendiri. kalo lo juga suka, jangan takut. udah gede kan kalian berdua. ngomonglah kalian dari hati ke hati.”

“heh! gimana mau ngomong dari hati ke hati kalo misalnya dianya yang berubah dan nyuekin gue. bbman aja dibales seadanya. ini aja gue udah gak bbm seminggu, dia gak nyariin. berarti dia emang gak suka sama gue.”

“dia gengsi, begok!”

dan pembicaraan makan siang kali ini melibatkan terlalu banyak emosi dan meninggalkan terlalu banyak kemungkinan dan menghasilkan banyak pemikiran juga. kenapa begini, kenapa begitu. masa begini, masa begitu. atau dia begini lantas begitu? ah! aku pusing. kenapa sih kita gak langsung ketemua sama orang yang suka sama kita juga. jadi gak usah pusing-pusing mikirin tanda-tanda yang dia kasih. gak usah pusing mikirin, harus gimana ya supaya dia tau kalo gue suka dia?

love is simple, people are complicated!

2 thoughts on “Pembicaraan Makan Siang #2

  1. Pingback: URL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s