Pembicaraan Makan Siang #3 – Menunggunya Pulang ke Rumah

 

sudah beberapa hari ini banyak sekali hal yang lalu-lalang diotakku. sesuatu yang menuntut jawaban tetapi bahkan sulit sekali untuk melontarkan pertanyaan itu. bahkan untuk berpikir aja aku tidak mampu. seperti benang kusut yang udah gak diketahui lagi ujungnya ada dimana. mau balik kesemula gak bisa, diperbaiki sulit. ya sulit, bukannya gak bisa kan? bisa, tapi sulit. maka dari itu aku mengajak sahabatku makan siang. kali ini aku sedikit memaksanya. karena kalau aku sehari lagi saja diam, aku bisa gila. dan kali ini aku tidak mengajaknya ketempat biasa kami. makan siang ditempat yang berbeda mungkin bisa menjernihkan pikiranku.

“jelek banget muka lo. kenapa?” katanya ketika baru datang dan langsung duduk didepanku. sahabat gak perlu basa-basi. sahabat langsung to the point.

“iyah nih. mumet banget pala gue.” aku akui, mukaku gak enak banget untuk diliat. lesu, suram, gak bergairah. bahkan aku hanya memakai make up seadanya jadi menimbulkan efek pucat.

“iyah. kenapaaaa?” nampaknya dia sudah tidak sabar.

“gue udah dua minggu gak komunikasi sama dia.”

“loh? kok bisa?”

“iyah, gue yg decide. supaya jelas aja keadaannya. gue yang bilang kok kedia.” aku menunduk kebawah. rasanya aku gak bisa menyembunyikan perasaanku yang benar-benar terpuruk kali ini. pathetic.

“terus dia bilang apa?”

“gak bilang apa-apa. cuma bilang, ‘ohh, yauda deh.'” jelasku lagi.

“hah?! begitu aja? yakin lo? aneh banget tuh orang. gak ngerti deh.” sahabatku mengangkat kedua alisnya.

“ya, iya. begitu aja.”

aku gak tau harus bagaimana lagi. sejak dua minggu lalu kami perang dingin. memerangi hal yang tidak jelas. memerangi tanpa tahu dengan jelas apa yang akan dimenangkan. tatapan kami dingin, jarak kami semakin jauh, tembok yang ada semakin tebal. kami seperti kembali asing. tapi aku seperti tidak menemukan alasan untuk meninggalkannya. tidak satu pun. bahkan saat aku mencari-carinya aku tidak menemukannya. ada apa ini Tuhan? apa yang terjadi? apa rencanaMu sebenarnya? kami bertemu di gereja kemarin. ketika briefing pengurus dan pelayan kami pun tidak bertegur sapa. menyedihkan. melayani bersama tapi seperti tidak melayani bersama. aku tidak ingin hal seperti ini terjadi untuk kesekian kalinya. aku berusaha keras. tapi menyapanya nampaknya bukan pilihan yang baik. aku tidak tahu harus bagaimana, aku tidak tahu harus berkata. beberapa kali aku mencuri-curi pandang padanya, beberapa kali juga aku menangkap dia melakukan hal yang sama. dan beberapa kali juga mata kami bertemu. saling tatap cukup lama kemudian memalingkan wajah masing-masing secara perlahan, seakan kami belum cukup puas melihat satu sama lain. tapi hanya itu. hanya sebatas tatapan mata yang punya beribu makna dan banyak sekali rahasia dibaliknya. tapi bisa aku katakan, karena tatapannya yang seperti itu, yang membuat aku tidak bisa meninggalkannya. karena dari matanya aku tahu dia tak mau hal ini terjadi juga. dia juga gak mau kajadiannya begini. tapi mungkin dia terlalu gengsi atau apalah sehingga dia tidak bergerak, tidak berusaha untuk membuat semua seperti biasanya. aku tidak menuntutnya seperti semula, tapi aku hanya ingin seperti biasanya. betapa aku ingin berteriak didepan mukanya, “SALAH AKU APA” tapi kayaknya itu percuma. aku benar-benar blank. curhat nampaknya sama seperti jalan buntu. maju tak bisa, mundur kembali lagi. tak memberi solusi. dan hari itu aku lihatnya tampak kurus dari biasanya, mukanya tirus, kantong matanya besar, dia nampak lemas dan tidak bersinar seperti biasanya. malam setelah aku pulang, aku memutuskan untuk mengirim bbm ke dia (ini pun atas dorongan teman-temanku). tapi seperti biasa, dia tampak cuek, dingin, dan membalas seadanya seperti aku ini orang asing baginya. sakit rasanya. usaha yang aku lakukan terbuang sia-sia. tak apa. aku rasa aku bisa menunggunya. menunggu orang yang aku sayang, menunggu orang yang dulu aku sayang untuk kembali. kembali kerumah. kerumah yang dulu kami sebut, “KITA”

“kalo gue jadi elo. gue udah mulai move on. gue udah anggap dia gak ada seperti dia menganggap gue gak ada.”

kalau lo jadi gue, lo juga pasti akan menunggu. karena lo tau, ini semua terjadi karena alasan yang tidak terungkap jelas dan masalah yang tidak dilontarkan. kataku dalam hati.

kalau dia dulu bisa manis, bisa baik. kenapa nanti tidak? ini hanya masalah keterbukaan dan gengsi yang harus diruntuhkan. atau… hati yang harus jujur.

*aku menunggumu pulang kerumah, sayang. demi air mata yang terus terurai, jangan biarkan semua percuma.

 

 

“Loving you was like throwing a lasso around a tornado.
I tried to hold on to you.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s