Pembicaraan Makan Siang #4 – Shit Happens, but Life Goes On

 

Siang ini aku dan sahabatku sedang iseng jalan-jalan di mall sambil menunggu jam makan siang. Hari ini hari jumat, jam makan siang kami sedikit lebih panjang. Mall hari ini tidak begitu ramai, cukup sepi untuk ukuran weekend.

Kami baru saja keluar dari Mango selesai melihat-lihat. Tapi kakiku tiba-tiba saja kaku, mulutku kering, mataku tak sempat berkedip, aku melihatnya. Bersama perempuan lain.

“Ini hari apa?” tanyaku panik pada sahabatku.

“Jumat, tadi kan elo yang ingetin gue.”

“Lo yakin hari ini hari Jumat?” tanyaku lagi tidak percaya. Mataku masih terpaku padanya yang melintas di koridor mall seberang. Lengan kekarnya digelayuti manja oleh seorang perempuan yang tidak bisa aku kenali wajahnya. Tidak lama kemudian, jemari lentik perempuan itu mengelus pelan tengkuk dia. Hatiku berdesir.

“Lo tenang ya, jangan panik. Aduh, gue jadi ikutan speechless nih.” Kata Dinda, sahabatku, yang tidak aku gubris sama sekali. Aku masih sulit berkata-kata. Kakiku masih lemas, hatiku serasa bolong.

Hari ini aku melihatnya jalan dengan perempuan lain. Bukan karena aku suka sama dia lantas aku patah hati melihat kejadian siang ini. Aku tidak tahu apa yang aku rasa. Tapi aku sedih, aku kesal, aku marah. Kami duduk difoodcourt yang siang itu masih sepi. Sengaja kami memilih duduk di pojok agar bebas ngobrol.

“Brengsek!” kataku tiba-tiba

“tenang dong…”

“Gak bisa! Brengsek banget dia! Bilang sama gue kalo BBMan sibuk kerja. Jadi ini kerjaan dia kalo dia bilang lagi sibuk? Ini kan hari jumat dan bahkan belum jam makan siang, Din. Tapi kenapa dia udah bekliaran di mall sama perempuan?”

Sahabatku gak bisa berkata-kata. Bagus. Emang rasanya gak ada yang bikin aku tenang sekarang.

BRAK “sialan!” aku menggebrak meja sambil terus mengumpat. Dinda terkejut sampai dia melompat dari bangkunya.

“Lo kira-kira dong, ah!” Dinda ikutan marah saking sebalnya karena aku menganggetkannya.

“Gimana dong nih, Din?” mataku berkaca-kaca. Aku bingung harus gimana. Harus buat apa. Aku gak tau lagi mau ngapain setelah ngeliat kejadian ini.

“ya gak gimana-gimana. Lo tuh kayak dikasih tahu kebenarannya sama Tuhan sekarang. Tuhan kasih liat lo langsung dia itu cowok yang gimana. Terus lo bisa apa lagi emang sekarang? Marah-marah dan nuntut penjelasan lagi ke dia? Basi.” Dinda berkata berapi-api tanpa memberi jeda. Aku pun diam saja.

“Gue mau telpon dia.” Aku mengobrak-abrik hand bag-ku. Tapi Dinda mencegahku dan menjauhkan tasku dari jangkauan tanganku.

“tai kucing lo mau nelpon dia!” kata Dinda emosi, “what you’ve seen is enough. Dia itu laki-laki. Dia pasti akan ngasih pembelaan ini-itu untuk apa yang lo liat tadi. Udahlah, lupain dia bener-bener sekarang. Gak perlu lagi lo bertanya-tanya dalam hati dan pikiran lo tentang dia. Karena lo udah tau jawabannya.”

Dinda benar. What i’ve seen is enough. Dia berubah bukan karena suka aku, dia berubah karena kita ada masalah, dia berubah bukan karena sibuk kerja dan bukan karena dia harus beradaptasi dengan jabatan barunya dikantor. Tapi dia berubah karena sengaja menjaga jarak denganku. Karena dia lagi deket dengan perempuan lain.

“Tapi dia kan bisa bilang, Din, sama gue. Dia bisa cerita kalo emang dia punya gebetan sekarang. Gue tau kok jaraknya kalo emang dia udah ada gebetan. Gak perlu guenya di jauhin kayak penyakitan begini!” kataku lagi emosi.

“Udahlah, whay bygones let bygones. Mungkin dia gak seinisiatif itu. Atau dia takut. Atau dia gak enak sama lo.” Dinda member penjelasan.

“Ah, kampret lah!”

Aku tidak menuntut status, aku juga takut berharap padanya, bahkan untuk suka dan membayangkan aku menjadi pacarnya saja gak pernah terlintas dalam benakku. Perasaanku ini bukan seperti yang orang-orang kira. Hanya satu yang aku harap padanya, jangan pernah tinggalkan aku dan berubah.

Dia yang tahu tentang cerita-ceritaku, dia orang pertama yang menjadi tempat aku berkeluh kesah, dia orang yang pertama tahu tentang berita-berita gembira yang terjadi dalam hidupku. Dia pelengkap hariku. Tapi bukan berarti aku punya cinta padanya kan? Seperti yang aku bilang dulu. Aku suka iya, aku sayang juga iya sama dia. Tapi dengan kadar yang berbeda.

Saat dia berubah, saat dia menjauh aku seperti kehilangan rumah. Rumah tempat aku istirahat dan menumpahkan segala penatku, rumah tempat aku bersenda gurau dan tertawa, rumah tempat aku bercerita dan berkeluh kesah.

Tapi Tuhan baik, mungkin kalau Dia tidak memperlihatkanku hal ini. Aku akan terus berharap dan berasumsi. Dimana hal itu tidak baik untuk kesehatan hatiku sendiri. Apapun yang terjadi, tetap Tuhan baik. Dia tidak ingin aku terluka lebih dalam lagi, Dia ingin menunjukkan rencanaNya yang lebih indah lagi untukku.

Yang aku tahu sekarang, dia hanyalah satu bab cerita dari satu buku tebal hidupku. Masih banyak perjalanan, masih banyak cerita, masih tersedia banyak kata untuk aku tulis lagi. aku tidak yakin aku kuat bertahan, tapi yang aku tahu kalau kemarin aku bisa melaluinya, hari ini pasti aku juga bisa melaluinya.

Suatu hari nanti, aku akan melupakannya. Menemukan cerita-cerita lainnya yang lebih menarik. Menemukan kata-kata lainnya untuk aku tulis. Kalau hari ini aku menangis, dunia akan sediakan tawa esok pagi. Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi aku yakin, tidak ada perpisahan tanpa datangnya perjumpaan kembali. Kalau rumah yang ini dihancurkan, Tuhan akan kasih rumah yang baru lagi. Aku yakin itu.

Terima kasih untuk hari-hari yang kita lalui bersama. Bagaimanapun kau pernah jadi yang istimewa dalam hidupku. Aku tidak akan menyesalinya. Ataupun mengutuknya. Aku berterima kasih untuk kesempatan menyayangi, untuk kesempatan disayangi. Aku berdoa agar bahagia selalu bersamamu.

Terima kasih…

Dan sampai jumpa.

Shit happens, but life goes on…

8 thoughts on “Pembicaraan Makan Siang #4 – Shit Happens, but Life Goes On

  1. oohh kk masih suka ngobrol yah sm mr.. titip salam yah kak buat mr.. ak lagi puasa sms-an soalnya. ahahahah.
    aku tunggu buku keduanya kak 😉

      • Sipplah kak.. 😀
        Btw kl cerita ini bneran trjadi, mnurutku bnr sih kt shbtnya.. lagipula syg kalo gara2 1 org nyebelin, hari2 kita rusak, pdhl masih bnyk yg masih care sm kita kyk shbt yg d dpan mata itu.hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s