Pembicaraan Makan Siang #5 – Final Call

Aku menimbang-nimbang blackberry torch-ku ditangan. Telpon-jangan-telpon-jangan-telpon-jangan. Rasanya seperti my brain tells me don’t, but my heart dying to know. Memang semuanya sudah berakhir. Tapi aku masih berharap dia mau mengakui yang sebenarnya dan menjelaskan semuanya.

Semua yang aku rasa jangkal, semua yang aku rasa berbeda. Lagi pula, aku juga ingin menumpahkan semua perasaan dan pikiranku. Kalau selama ini kami bisa terbuka satu sama lain, seharusnya aku juga masih bisa bersikap seperti itu.

Dengan satu tekanan aku sudah terhubung dengan dia. TUUUUTTT. TUUUUTT…

Hatiku berdebar gak karuan. Please, Tuhan, tolong aku.

            “Halo?” dia menjawab telponnya! GOSHHHH

            “Ha-halo?”

“Ada apa?” Tanyanya pelan dan lembut seperti biasa.

“Umm. Lagi dimana? Bisa ngobrol sebentar?” tanyaku ragu.

“Di kantor, lagi break nih, baru mau keluar makan siang. Kenapa?”

“Nggak. Umm, aku kemarin liat kamu di mall.”

“Oya?” dia agak terkejut.

“Iya. Sama cewek gitu. Hehehe.” Aku paksakan tertawa sedikit agar suasan tidak terlalu kaku.

“Masa? Kamu liat aku dimana?” katanya lagi.

“Umm. Deket eskalator lantai satu.”

“Oohh. Kok aku gak liat ya?” oh come one, please deh basa-basinya!

“Umm. Sorry ya aku bahas lagi soal ini. But I promise you this is the very last time.” Kataku sambil menelan ludah banyak-banyak mempersiapkan hatiku untuk kembali membahas masalah ini.

“Soal apa? Aku gak ngerti.”

“Kamu berubah karena kamu udah punya pacar ya?” tanyaku tanpa tedeng alih-alih. Biarin aja lah. Males aku berbasa-basi sama dia lagi. Lebih cepat, lebih baik. Dia terdiam, tapi tak lama menjawab.

“Aku gak berubah. Aku begini-begini aja. Mungkin karena aku sibuk, kita jadi jarang komunikasi. Aku sama perempuan yang kamu liat itu belum pacaran, tapi kami lagi mengarah kesana.”

Aku menghela napas. Dan aku yakin dia pasti mendengarnya. See? Dia belum mau mengaku. Dia tidak mengaku! Shit!

“Gak berubah gimana? Kamu tuh udah gak kayak dulu lagi. Aku kayak gak kenal kamu. Aku kehilangan kamu!” nada suaraku meninggi. Tidak ada lagi kompromi lagi hari ini. Semua harus terbuka.

“Kamu mau kebenaran yang kayak gimana lagi sih? Emang aku sibuk dikantor. Kalau kamu mau cerita dan ngobrol yang bisa kok. Kalaupun aku lagi sibuk atau capek aku akan bilang.”

“Gimana mau cerita ke kamu kalau baru mulai aja kamu udah kayak gak nanggepin aku dan ngebuat tembok! Emang jabatan kamu yang sekarang kayak apa sih sampe ngerubah kamu begini? Ha?” aku emosi. Aku ingin semua selesai. Aku ingin dia mengakuinya.

“Aku gak berubah. Aku tetap begini.”

Aku gak tau lagi harus bagaimana. Kalau dia masih menutup dirinya seperti ini. Tidak banyak yang bisa aku buat. Aku tahu semua tidak akan seperti semula, tapi apa aku ini gak pantas untuk sebuah penjelasan saja? Apa aku tidak sepantas itu untuknya?

Kami diam cukup lama. Hanya suara-suara dibelakang kami yang terdengar. Aku menghela napas lagi. kali ini lebih panjang dan berat.

“Aku gak tau lagi mau ngomong apa kalau kamu masih ngomongnya kayak begitu.”

“Ya, aku juga gak tau…” suaranya memelan.

“So, like i said before. This is the last time.”

“Yes.”

“Have a good day, then.”

“You too. Have a good day.”

Sambungan telpon terputus. Aku terduduk dan termangu. Tadi adalah telpon dan pembicaraan kami yang terakhir. Aku bahkan malas untuk mengenang masa lalu kita yang bahagia itu. Nampaknya ini akhir dari semuanya. Tidak ada lagi yang bisa kami perbuat. Tidak ada yang pantas untuk diperjuangkan lagi. sudah dibicarakan, sudah dijelaskan. Dan alasannya masih sama. Lantas alasannya masih sama. Terus aku harus bagaimana. Yasudahlah, aku siap melepasnya. Aku rela.

We used to talk every day, but now it’s like we don’t even know each other anymore. Hidup memang seperti roda, ya. Kadang kita diatas, kadang kita dibawah. Memang gak ada yang pasti, apa lagi soal hati. Kalau tidak berharap saja bisa membuat aku begini terluka, bagaimana kalau aku berharap penuh?

            If you don’t want to tell me everything, that’s fine. Just don’t lie to me.

“When I think that there was a time that I almost loved you. You showed your ass and baby yes I saw the really you.”

2 thoughts on “Pembicaraan Makan Siang #5 – Final Call

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s