Inilah Aku, Itulah Kamu

Aku merindukanmu sampai menangis. Dan hati terasa teriris. Mungkin kamu tidak suka caraku merindukanmu. Tapi mungkin inilah aku yang terlalu mencintaimu sampai merindukanmu selalu. Sehari penuh aku menunggu malam datang, berharap malamlah waktu terbaik kita berbincang-bincang. Tapi semua tidak selalu seperti yang aku harapkan. Kamu harus mengerjakan hal lain atau terlelap lebih cepat karena lelah. Jika marah adalah hal yang tidak pantas, mungkin menangis tanpa kau tahu itu pantas aku lakukan untuk membuatmu tahu aku mendukungmu disaat rindu yang tak kunjung surut. Saat aku harus pergi sendiri tanpa kamu, kesal memang tidak mungkin aku tunjukkan. Aku harus puas dengan berkirim kabar lewat pesan singkat. Waktu kamu sudah bermimpi dan aku masih terbangun dengan rindu yang masih menggantung, membaca ulang pesan-pesanmulah yang hanya bisa aku lakukan. Mendengar suaramu hanya dari rekaman itu cukup untuk menghadirkanmu disampingku, meski dalam khayalku. Mungkin inilah aku, yang terlalu mencintaimu hingga menangis merindukanmu. Dan mungkin itulah kamu, yang membenci cara aku merindukanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s